Era 4.0, Pendidik Tidak Sebatas Mengetahui

Sobat 62, Era saat ini berkembang sedemikian pesatnya. Tidak lagi di era insdustrialisasi mesin manual. Dunia sekarang digenggam dalam genggaman tangan. Komunikasi nirkabel, melalui jarigan data.

Kedepan lagi, sudah dinyatakan era society 5.0, dimana teknologi sudah dikuasakan kepada robot. Robot yang bisa diperintah melalui pola.

Menghadapi era yang demikian pesatnya, tentunya harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang mumpuni. Tidak cuma cerdas, tapi bermoral.

Pesan itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulawesi Tengah, Irwan Lahace, Msi saat membuka Rapat Koordinasi Musyawarah Kerja Kepala Sekolah tingkat SMA/SMK di Palu, Senin 17 Februari 2020.

Ia mengatakan, robot tetaplah robot. Tanpa memiliki jiwa. Sementara manusia, memiliki akal dan jiwa. Naluri manusia ialah mencipta, menemukan hal yang baru. Karenanya, di era apapun juga manusia tetaplah lebih tinggi kedudukannya ketimbang robot.

Namun di era sekrang, manusia cenderung menjadi robot. Tidak mengingikan mencipta, atau belajar. sehinggamanusia yang malas belajar, akan kalah dengan robot. begitu juga sebaliknya, manusia yang mengutamakan akalnya, sama dengan robot.

Lalu apa yang dimaksud dengan manusia mencipta itu. Yaitu manusia yang menggunakan budi pekertinya dalam melakukan penemuan. penemuan yang berguna bagi umat manusia, yang tidak bisa ditiru robot sekalipun.

Terkait dengan Rapat Koordinasi MKKS SMA/SMK, Irwan Lahace mengatakan agar sekolah menjadi pinor pembaharu, maka Kepala sekolah harus yang pertama, melakukan perubahan manajerial di sekolahnya agar seluruh insane pendidikan di sekolah, menerima dengan baik arti dari revolusi industry 4.0.

“Kita tidak menginginkan ada guru yang tidak tahu apa itu era industry 4,0. Tidak ingin ada guru yang tidak tahu mengoperasikan laptop, atau tidak punya email. Guru harus punya itu semua itu untuk menunjang pendidikan di era 4.0. apalagi dengan saat ini diterapkannya kurikulum merdeka belajar, sehingga menuntut lebih peran guru serta kepala sekolah,” ujar Irwan Lahace, usai membuka rapat koordinasi Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA/SMK negeri dan swasta untuk kota Palu dan kabupaten Sigi.

Menurutnya,  setiap zaman mengalami peruahan. Olehnya pendidik juga harus siap dalam perubahan zaman yang tanpa batas itu. “Sekarang kita menggunakan komunikasi tanpa kabel. Kedepan bisa saja dengan komunikasi hologram. Itu bisa saja terjadi,” ujar Irwan.

Olehnya ia meminta setap pendidik menerima perubahan. Dan pendidik harus bersikap mengembangkan bakat setiap peserta didik untuk mencipta. “Mereka yang muda punya imajinasi yang melampauai dari imajinasi kita (orang tua, red), maka didiklah mereka untuk mencipta dan menemukan hal yang baru. Dengan begitu, kita di Sulteng akan menjadi pioneer dan tidak tertinggal lagi,” ujar Irwan.

Kegiatan Rakor MKKSSMA/SMK dihadiri ketua DPRD Sulteng Nilam Sari Lawira. Nilam menyampaikan Kepala Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan merupakan jiwa dari sekolah. Memiliki peran yang sentral dan strategis dalam melakukan perubahan-perubahan.

Perubahan yang kreatif dan inovatif dalam pengelolaan sekolah agar proses belajar mengajar lebih efektif dan professional. Oleh karena itu, kemampuan diri serta profesionalitas Kepala Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan haruslah senantiasa terus ditingkatkan. Perlu adanya koordinasi dan silaturrahim terus menerus dalam rangka menindaklanjuti program-program kependidikan pemerintah daerah.

“Untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia melalui proses pembelajaran. Perlu adanya upaya sinergis, dinamis dan harmonis antar kepala sekolah, antar guru dan antar pengawas,” jelas Nilam. (*)

Tinggalkan Balasan