Berhenti Mengeluh, Perbaiki Pendapatan

REGULASI dan Non Regulasi dalam beberapa tahun terakhir telah dikeluhkan dan dikritisi oleh sejumlah masyarakat dan kalangan. Dari berpendapatan kecil sampai menengah. Dari yang berpendidikan terbatas sampai kepada yang lebih.

Regulasi itu dapat disebutkan antara lain dicabutnya subsidi BBM, gas elpiji 3 kg, subsidi listrik, sampai kepada naiknya iuran BPJS. Sedangkan contoh non regulasi adalah mahalnya harga tiket pesawat dan biaya logistik udara yang telah diatur oleh mekanisme pasar.

Mengahadapi situasi ini Pemerintah serba salah karena di satu sisi harus membayar utang yang jatuh tempo , harus membangun infrastruktur dasar untuk mendorong daya saing. Sementara itu negeri ini juga diperhadapkan oleh angka pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan yang masih tinggi. Ini sama dengan pepatah lama “bila subsidi dikurangi atau harga dinaikkan, mati mama, bila tidak dikurangi atau tidak dinaikkan mati papa”.

Mengeluh adalah sebuah kebiasaan dan realita yang masih sering kita hadapi atau jumpai. Saya teringat kejadian dua tahun yang lalu. Secara tidak sengaja bertemu teman lama di salah satu warung kopi.

Awalnya cerita datar-datar saja, dan dia menanyakan tentang kehidupan dan pekerjaan. Setelah itu yang bersangkutan mulai mengeluh tentang hidup yang makin susah, barang pada naik. Pokoknya semua serba susah. Saya biarkan dia ngoceh terus dan terakhir dia berkata agak serius. “ Hanya bapak dang yang bisa tolong pa kita”, ini motor so mo ditarik. So tiga bulan kita manunggak. Napa debt colector terus ba washaap, tapi tidak bisa ba balas, paket data juga so habis.

Saya tersenyum geli mendengar celotehnya dengan dialek khasnya. Jadi!, ngana pe mau bagaimana dang?. Ikuti aksen bahasa kawan itu. Bapak bantu jo pa kita terserah berapa-berapa!. Saya diam sejenak, pura-pura seperti berpikir keras.

Kemudian sengaja mengalihkan pembicaraan agar dia juga berpikir bahwa cari uang itu susah dan harus kerja keras. Karena saya perhatikan dia sudah tidak semangat dan hanya menjawab iya..iya… . Saya juga jadi iba dan berpikir mungkin benar dia memang lagi susah. Selanjutnya saya katakan

OK kita bantu “ngana” separuh saja, sisanya ngana cari di tampa lain. Dan dia begitu ceria dan semangat kembali. Artinya prediksi saya memang dia lagi dikejar-kejar debt colector, meskipun kita tau itu prosedur ilegal

Sebelum meninggalkan warkop, saya berpesan ke teman tadi, bahwa kalau ketemu lagi tidak boleh mengeluh lagi ya, sambil membayar kopi saya dan rombongan termasuk kopi yang bersangkutan.

Dia mengucapkan terimakasih dan masih sempat-sempatnya juga memuji ( ba pa tende, dialeg palu), “memang torang pe bos ini 24 karat” seng tidak ada lawan. Semua rombongan saya tertawa karena merasa lucu mendengar.

Kejadian seperti ini bukan hanya kali itu, tetapi beberapa kali di tempat berbeda. Kasusnya serupa tapi modus berbeda dengan orang berbeda pula.

Problem sosial ini tentunya harus dicarikan solusinya, agar kita tidak lagi terperangkap dalam kondisi serba tidak jelas alias abu-abu, hanya sekedar memberi janji-janji yang enak didengar melalui program -program normatif yang sudah ada.

Sesungguhnya yang menjadi prioritas dibangun tidak hanya knowledge dan skill SDM, tetapi yang tidak kalah pentingnya bagaimana membangun attitude atau mental model. Agar SDM kita tidak lagi memilih-milih bidang pekerjaan.

Kuncinya adalah mampukah kita beradaptasi dengan bidang pekerjaan yang kita kurang sukai, tetapi bisa dikerjakan Yang terpenting halal dan produktif. Dan akan lebih bagus lagi kalau nantinya mampu menciptakan lapangan kerja.

Relevansinya dengan hal di atas, masih teringat bagaimana seorang Thresya yang sarjana strata satu menjajakan kopi keliling (kopi bisa pasiar) dengan kendaraan roda dua. Bagaimana seorang “Endang Suistiawaty” seorang pegawai honor dan sarjana strata satu selepas kerja berjualan nangka Palu yang telah di packing rapi di jalan Muh. Yamin kota Palu.

Bagaimana seorang Pantong tidak tamat SD bekerja sebagai “anak petakan” budidaya udang di Barru Sulawesi Sekatan berpendapatan melebihi eselon empat. Seorang Amir yang hanya tamat SD, kemudian berjualan ikan bakar di jalan Sriwijaya Palu dan berpendapatan melebihi eselon dua.

Mengurangi jumlah orang mengeluh dan bisa memperbaiki pendapatan berpulang kepada pemimpin di daerah masing-masing. Semakin kreatif dan inovatif pemimpin daerahnya, maka dapat dipastikan akan mengurangi jumlah orang yang mengeluh karena pendapatan lebih baik akibat terbukanya sejumlah lapangan kerja.

Satu contoh yang sangat sederhana terkait dengan pemanfaatan limbah jerami padi yang selama ini hanya dibakar. Sesungguhnya limbah ini dapat diubah menjadi briket arang sebagai komplementer gas 3 kg, dapat diubah menjadi pakan ternak besar, menjadi pupuk yang semua bernilai ekonomi dan bisa memperbaikin pendapatan. Sebagai catatan bahwa kalau produksi padi 4 ton per ha, maka limbahnya minimal 16 ton. Tentunya ini menjadi sebuah kesempatan yang luar biasa.

Pilkada 2020 yang akan memilih kepala daerah di sejumlah daerah menjadi momentum penting, terutama pemilik hak suara. Diharapkan yang terpilih adalah pemimpin yang kreatif, inovatif agar mampu membuka kesempatan kerja seluas-luasnya dengan harapan bisa mengurangi jumlah orang-orang yang mengeluh, karena semakin terbukanya kesempatan berusaha.

Momentum ini adalah kesempatan terakhir, kereta terakhir untuk menuju perubahan. Pergunakanlah hak suara anda untuk kepentingan yang lebih besar. SEMOGA.

Tinggalkan Balasan