Covid-19, Antara Kepatuhan Dan Pendapatan

Oleh, Hasanuddin Atjo

Rabu, 8 Maret 2020.

Corona Virus Desease 2019, atau Covid-19, kini menjadi sangat disegani, sangat ditakuti karena daya bunuhnya teramat dasyat.

Mahluk kecil yang tidak terlihat kasat mata ini tidak kenal umur, tidak kenal status, dan tidak kenal wilayah. Kaya, miskin ; Pejabat dan bukan pejabat; Negara adidaya dan bukan adidaya semua diserangnya.

Update per tanggal 7 April 2020, covid-19 telah menyebar ke 211 dari 241 Negara dengan yang meninggal 62.955 dari kasus 1.136.851. Dan secara Nasional meninggal 209 orang dari 2.491 kasus positif.

Beberapa Negara dinilai sukses menekan laju penyebaran virus ini maupun dampaknya. Namun ada juga yang dinilai kurang sukses. Jerman, Singapura dan Korea Selatan, contoh Negara yang sukses, karena angka kematiannya rendah (kurang dari satu persen). Sedangkan Italia, Spanyol dan Amerika Serikat contoh kurang sukses, karena angka kematian tinggi (kurang lebih 10 persen ) dari kasus positif.

Kepatuhan warganya dalam menerapkan Social dan Physical distancing, seperti tinggal di rumah saja, kerja dari rumah serta penerapan sanitasi dan asupan gizi yang sesuai, adalah menjadi kunci sukses Negara tersebut untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 serta menekan dampaknya.

Patuh tetap di rumah , kerja dari rumah serta penerapan sanitasi dan asupan gizi yang sesuai dan cukup akan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: Attitude atau perilaku; Tingkat Pendapatan serta; Penguasaan teknologi digital.

Tiga Negara sukses, disebabkan warganya patuh menjalankan SOP yang telah ditetapkan. Warga ketiga Negara tesebut punya attitude patuh, disiplin. Memiliki pendapatan lebih dan menguasi teknologi digital yang antara lain dipergunakan dalam belanja online sebagai regulasi pembatasan sosial. .

Tiga Negara kurang sukses memiliki semua, kecuali terkait dengan attitude. Ketiga Negara itu cenderung kurang patuh dan disiplin terhadap anjuran dan penerapan SOP yang telah ditetapkan.

Bagaimana dengan Negeri ini, Indonesia. Sesungguhnya ketiga faktor itu juga dimiliki negeri ini, namun persoalannya kondisi tidak merata dengan tingkat ketimpangan yang tinggi.

Bagi yang berpendapatan tetap dan menguasai teknologi digital seperti ASN, Pgawai Swasta atau pengusaha tidak jadi soal. Kelompok ini bisa dipaksa patuh di rumah saja , bekerja dari rumah, bisa memesan makanan karena ada uang tabungan dan menguasai digital untuk belanja menggunakan aplikasi.

Yang bersoal adalah kelompok pekerja serabutan, kelompok berpendapatan harian. Mereka harus keluar rumah bekerja agar mampu membeli keperluan hidup sehari-hari, meskipun mereka juga menguasai dan familiar dengan teknologi digital.Artinya pendapatan dan adanya tabungan warga sangat menentukan.

Itulah sebabnya salah satu pertimbangan Pemerintah dalam rangka penanggulangan Covid-19 adalah menerapkan PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar, bukan memilih Lokcdown atau Karantina.

Bila lockdown yang dipilih, dikuatirkan dana Pemerintah yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan, apalagi kalau berkepanjangan. Demikian pula suply pangan akan terganggu, karena stock pangan kita yang terbatas yang lebih disebabkan kemandirian dan ketahanan pangan negeri ini belum begitu bagus.

Pendapatan Perkapita Negeri ini baru sekitar 4.000 $US,jauh dibawah Jepang sekitar 43.500 $US, Korea Selatan 37.754 $US dan Singapura 65.233 $US. Padahal 1945 Jepang baru saja kalah perang dari Sekutu, dan Korea Selatan baru merdeka dua hari lebih awal dari Indonesia yaitu 15 Agustus 1945. Sedangkan Singapura merdeka dari Malaysia di tahun 1965.

Pricewaterhousecoopers, PwC (2017), memprediksi bahwa sesungguhnya Indonesia di tahun 2045 dapat menjadi Negara maju berkekuatan ekonomi peringkat ke 5 dunia dengan total pendapatan $US 7 triliun dan pendapatan per kapita $US 23.000 per tahun atau setara (kurs 15 ribu) dengan 365 juta rupiah. Ini tentunya sebuah harapan yang harus diseriusi dengan menjadi tekad bersama.

Namun sebelum menuju ke sana, masih ada sejumlah tantangan menuju Indonesia hebat 2045, yang harus segera diselesaikan, kalau tidak mau terjatuh pada lubang yang sama.

Ketahanan pangan kita yaitu kemampuan menyediakan dan distribusi tergolong rendah. Berdasarkan data Global Food Security Indek (2019), bahwa Ketahanan Pangan Nasional berada di urutan ke 62 dari 113 Negara yang di ukur, dengan nilai indeks sekitar 62,6 dibawah Malaysia, Thailand dan Vietnam

Impor pangan dan energi kita di tahun 2019 relatif tinggi, meski ada penurunan dari tahun 2018.

Total impor 2019 per Desember 2019 mencapai $US14,50 miliar terdiri pangan $US 12,37 miliar dan sisanya energi. Nilai impor bawang putih saja mencaoai enam triliun rupiah per tahun.

Selanjutnya angka Kemiskinan, pengangguran dan disparitas atau ketimpangan masih tinggi, dan umumnya masalah ini berada di desa-desa. Data dari Indeks Desa Membangun, IDM tahun 2019 menunjukkan dari kurang lebih 78.000 desa, sekitar 40 persen berkategori sangat tertinggal dan tertinggal, hampir 45 persen berkembang, sisanya berstatus maju dan mandiri. Selanjutnya Dalam lima tahun terakhir (2015-2020) Pemerintah mengalokasikan dana desa sekitar 320 triliun rupiah dengan kecenderungan meningkat.

Karena itu dengan sumberdaya yang dimiliki kita berkeinginan kuat untuk (1) Menjadikan indonesia sebagai Negara hebat di tahun 2045; (2) Berkeinginan untuk melahirkan desa maju dan mandiri lebih banyak lagi agar warganya memiliki pendapatan tetap, memiliki uang tabungan, beratitude patuh dan menguasai teknologi digital.

Harapan dari semua ini bila ada ancaman yang berkemiripan, warga pasti lebih siap, untuk menghindar agar tidak masuk dan terperangkap pada lubang yang sama. Karena itu perlu cara-cara baru yang lebih baik dan lebih modern. Diperlukan sejumlah pemimpin di pusat dan daerah yang adaptif, inovatif, update serta inspiratif agar warganya bisa termotivasi, bersemangat untuk membangun negeri ini secara bersama-sama. Semoga.

Tinggalkan Balasan