Covid-19, Sebagai Motivasi Dan Referensi Re-Desain Tatakelola (Bagian Pertama)

Oleh Hasanuddin Atjo

Ka Bappeda Sulawesi Tengah

COVID-19, telah membuat pusing sejumlah kepala Negara dan warganya, termasuk di Indonesia. Virus ini tidak pilih-pilih dan akan menginfeksi secara cepat siapa saja yang dijumpai, tanpa harus membedakan status seseorang apakah yang berusia muda, tua; kaya atau miskin; sampai pejabat dan pengusaha besar sekalipun.

Karena itu, masing-masing Negara membuat skenario agar korban jiwa dan dampak yang akan ditimbulkan pada sejumlah sektor bisa ditekan seminimal mungkin. Dan berusaha bisa segera mengakhiri serangan wabah ini, yang terbukti sangat ganas dan mematikan serta telah menimbulkan sejumlah dampak ikutan yang tidak kalah parahnya.

Dan sesungguhnya bila dampak ikutan yang ditimbulkan itu dapat diambil hikmahnya dan dikelola, maka ini bisa menjadi motivasi dan sekaligus referensi melakukan re-desain tatakelola bagi sejumlah sektor yang terdampak. Dengan harapan terwujudnya perubahan yang lebih baik, menuju Indonesia maju, Indonesia hebat tahun 2045. Mencapai harapan itu, masyarakat harus berubah dan menyesuaikan dengan sutuasi , demikian pula halnya dengan Pemerintah dan stakeholder yang lain.

Setidaknya ada tiga sektor yang telah terdampak diantaranya sektor Kesehatan-Lingkungan; Sosial; dan Ekonomi. Di sektor kesehatan telah mengedukasi semua warga tanpa kecuali agar terbiasa hidup teratur, bersih dengan selalu mencuci tangan setelah melakukan aktifitas, menggunakan masker, menjaga jarak satu dengan yang lain. Meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh melalui asupan gizi berimbang, berpikir positif dan riang, serta olahraga yang teratur.

Kesemua ini bermuara kepada membangun krdisplinan dan keteraturan.

Selanjutnya dari sisi lingkungan tertitip pesan bahwa alam terlalu di eksploitir, beban alam sudah begitu berat untuk mendukung kebutuhan dan ambisi manusia yang sering sudah tidak terkendali, sehingga keseimbangan ekosistem telah terganggu, yang kemudian berdampak atas dominannya organisme tertentu dalam satu ekosistem sehingga mewabah satu jenis penyakit tertentu.

Di sektor sosial telah memberikan edukasi pentingnya kejujuran dan keterbukaan dari sesorang dengan status orang dalam pemantauan, ODP; pasien dalam pemantauan, PDP agar para medis dapat memberi rekomendasi dan tindakan yang tepat. Ketidak jujuran dan keterbukaan warga masyarakat menjadi salah satu sebab virus ini menginfeksi secara cepat termasuk kepada petugas medis yang berujung pada korban jiwa karena telah terpapar positif Covid-19.

Selain itu Covid-19 juga telah memberi pembelajaran berharga agar senantiasa hidup gotong royong, saling membantu satu sama lain dan sesungguhnya merupakan warisan budaya negeri ini yang mulai luntur. Bagi yang berlebih, berpunya terpanggil untuk berbagi, membantu sesamanya.

Sektor ekonomi, adalah sektor yang paling terdampak. Dimulai dari sektor Rumah Tangga, UMKM, Koorporasi (industri manufaktur, transportasi, perdagangan hotel dan restoran), usaha jasa keuangan sampai pada sektor Pemerintahan.

Sektor Rumah Tangga mengalami tekanan penurunan pendapatan, karena adanya pembatasan keluar rumah. Penurunan daya beli karena harga kebutuhan pokok cenderung naik. Dan yang lebih parah lagi banyak keluarga rumah tangga yang tidak punya tabungan karena pendapatan yang pas-pasan.

Selain itu sejumlah keluarga rumah tangga juga memiliki kredit barang, kendaraan bermotor yang sudah tidak mampu lagi dibayar. Ini semua melengkapi beban keluarga rumah tangga seperti kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Sejumlah UMKM telah berhenti beroperasi, demikian juga telah terjadi pemutusan hubungan kerja atau merumahkan tenaga kerja pada sektor koorporasi seperti di sejumlah pabrik pengolahan, hotel, restoran, perdagangan, dan usaha transportasi yang meningkatkan jumlah angka pengangguran.

Jasa Perbankan dan usaha leasing mengalami kesulitan likuiditas, karena berkurangnya pemasukan dan terjadi penarikan sejumlah dana. Selain itu terjadi penurunan nilai jaminan agunan atas nilai kredit oleh dampak Covid-19 dan disebut Insolvensy

Pemerintah yang berperan sebagai regulator, fasilitator dan eksekutor juga telah banyak menyesuaikan dengan SOP, standar operasional prosedur menekan laju penyebaran Covid-19. Seperti penerapan social dan physical distancing, yang antara lain mengharuskan sejumlah pertemuan, rapat koordinasi yang selama ini harus dilakukan hadir secara fisik, tetapi kini sudah harus menggunakan aplikasi digital virtual antara lain Zoom yang saat ini lagi booming dan tranding.

Cara-cara kerja seperti ini juga berdampak menekan pemborosan seperti biaya sejumlah perjalanan dinas, biaya pertemuan dan rapat koordinasi lainnya. Selain itu rapat koordinasi, pertemuan bisa lebih murah dan berlangsung lebih cepat. Bahkan dalam sehari bisa sampai 3-4 kali dilaksanakan pertemuan secara simultan. Inilah era digitalisasi, era industri 4.0.

Ini juga sejalan dengan percepatan keinginan Presiden tentang satu data indonesia melalui Pepres 39 tahun 2019 , serta pembangunan yang berbasis e-Planning dan e-Buddgeting sesuai Permendagri nomor 70 dan 90 tahun 2019 yang harus diberlakukan pada 2021.

Wacana Pemerintah yang akan memangkas jabatan eselon di setiap kementrian dan lembaga serta jabatan di daerah semakin terbuka dan kemungkinan besar segera diberlakukan, karena penerapan sistem digitalisasi. Ini tentunya menjadi tantangan bagi pejabat eselon untuk bisa adaptif, inovatif dan update agar tidak ditinggal oleh perubahan.

Demikian artikel bagian pertama ini dibuat, dan akan dilanjutkan pada minggu sore besok yang akan fokus ke substnsi Re-Desain Tatakelola. Selamat berbuka puasa di hari ke 9, semoga semua selalu disehatkan. Amin.

Tinggalkan Balasan