DIALOG DENGAN BANK SULTENG-HIPMI : Pangan di Sulteng, Saatnya Jadi lokomotif Ekonomi

Oleh Hasanuddin Atjo, Tenaga ahli Menko Maritim dan Investasi.


Pandemic Covid-19 telah berdampak bagi ekonomi global termasuk Indonesia. Saat ini sejumlah negara telah terperosok pada krisis ekonomi yang cukup dalam.
Perekonomian harus dijaga, agar jangan terperosok ke krisis ekonomi, karena akan memperparah kemiskinan, tingkat pengangguran serta ketimpangan pendapatan yang sebelumnya sudah cukup parah utamanya di timur Indonesia.
Akibat Covid pertumbuhan ekonomi negeri tahun 2020 tidak menggembirakan. Di kuartal pertama tumbuh 2,97% dibawah target 5,6 %. Di kuartal kedua kondisi lebih parah, dan tumbuh – 5,32%. Bila di kuartal tiga dan empat 2020 ekonomi tetap tumbuh negatif, maka Indonesia akan terperosok pada jurang krisis ekonomi.
Karena itu Presiden Jokowi bersama jajarannya, melalui berbagai regulasi maupun intervensi berupaya agar di kuartal tiga maupun empat tahun 2020, perekonomian nasional bisa tumbuh positif
agar secara agregat tahun 2020 ekonomi Indonesia tumbuh positif. Dan kondisi ini akan menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi di tahun 2021.
Pertumbuhan ekonomi di satu wilayah atau negara bernilai positif bila investasi ditambah nilai ekspor lebih besar dari nilai konsumsi ditambah impor. Investasi di Sektor pangan dinilai paling relevan dilakukan, karena dapat meningkatkan ekspor dan mengurangi impor.
Di Kamis sore , tanggal 20 Agustus 2020, bertempat di salah satu cafe bandara Mutiara Sis-Al Jufrie saya sengaja berdialog dengan dirut bank Sulteng, Rahmat A. Haris; ketua HIPMI Ishak Basir Khan, dan salah satu pengusaha mall ternama Karman Karim.
Agenda diskusi mereview gagasan pengembangan industri udang vaname di Sulteng yang digagas DKP, KADIN, HIPMI serta bank Sulteng di 2018. Gagasan ini terpending dikarenakan bencana gempa, tsunami dan liquafaksi di tanggal 28 September 2018.
Saya mengatakan bahwa Pemerintah RI melalui KKP dibawah koordinasi Menko Maritim dan Investasi akan meningkatkan produksi udang nasional sebesar 250 % di tahun 2024 dari 500 ribu ton di 2019 naik menjadi 1.270 ribu ton.
Untuk menstimulan upaya peningkatan produksi ini, maka KKP di tahun 2020 akan membangun cluster percontohan intensifikasi budidaya udang pada lima provinsi yaitu; Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Aceh dan Lampung.
Kesempatan ini seyogianya dimanfaatkan oleh pelaku usaha lokal. Kini Sulteng telah jadi incaran sejumlah investor, dan saat ini kurang lebih 10 investor luar telah berinvestasi di daerah ini mengembangkan budidaya vaname secara intensif. Jangan sampai pengusaha lokal ketinggalan kereta, canda saya dan semuanya tertawa lepas.
Daerah ini memiliki empat kawasan potensial yaitu selat Makassar, telukTomini, teluk Tolo dan laut Sulawesi yang ideal bagi budidaya udang vaname. Lebih lanjut saya mengatakan bahwa jaminan pasar, teknologi maupun input produksi tidak perlu diragukan lagi, Bahkan harga udang di pasar nasional dan dunia cenderung naik. Dan dunia saat ini kekurangan suply sebesar 2 juta ton. Tinggal bagaima dengan jaminan permodalan?, sambil melirik ke dirut bank Sulteng.
Dirut bank Sulteng, Rahmat menimpali bahwa lembaga keuangan secara nasional meminta agar daerah juga mendorong pengembangan sektor pangan, karena di era pandemic Covid-19 sektor ini yang dinilai masih tumbuh positif. Karena itu saya tawarkan tantangan ke HIPMI, melaksanakan workshop dan buat contoh, nanti bank Sulteng yang memfasilitasi. Apalagi disini ada pak Hasanuddin Atjo, sebagai ekspert dan pemilik patent teknologi budidaya udang Supra intensif. Dan tantangan itu diterima oleh Ishak Basir Khan.
Karman Karim kemudian berkomentar bahwa di era pandemic Covid-19 kondisi mall “hidup segan mati tak mau”. Tidak operasional kami harus nombok listrik 150 juta per bulan. Dan bila operasional nombok 50 juta per bulan, belum yang lain-lain. Karena itu, saya saat ini sedang beralih investasi ke tambak vaname intensif, memanfaatkan lahan yang 20 tahun lalu dibebaskan. Saya akan ikuti jejak pak Hasanuddin Atjo, karena berdasarkan hitungan saya investasi mall kembalinya butuh waktu 10 tahun, tapi tambak ini maksimal tiga tahun.
Diakhir diskusi disepakati segera melaksanakan workshop dan membuat percontohan budidaya udang “ kolam melenial” yaitu budidaya udang di kolam bundar terbuat dari terpal yang ditopang oleh kerangka besi. Teknologi ini merupakan replikasi dari teknologi Supra intensif namun skala diperkecil yang telah dicobakan sejak tahun 2017.
Kita tunggu realisasi dari pertemuan singkat ini, dan akan bernilai bila segera terwujud. Diharapkan para pihak kiranya dapat secara bersama sama mendorong sektor ini untuk kemajuan Sulawesi Tengah yang krisis tidak hanya karena wabah pandemic Covid-19, juga oleh dampak bencana 28 September tahun 2018. SEMOGA.

Tinggalkan Balasan